SANGATTA – Pemangkasan Dana Desa pada tahun anggaran 2026 mulai dirasakan dampaknya oleh sejumlah desa di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Keterbatasan anggaran memaksa pemerintah desa melakukan penyesuaian besar terhadap rencana pembangunan, khususnya pada sektor pelayanan dasar.
Desa Tepian Indah di Kecamatan Bengalon menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup berat. Kepala Desa Tepian Indah, Quirinus Parwono Rasi, mengungkapkan bahwa desa yang dipimpinnya tahun ini hanya memperoleh Dana Desa sekitar Rp340 juta.
Nilai tersebut turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya, di mana total anggaran desa mencapai kurang lebih Rp1,2 miliar. Penurunan ini, menurut Quirinus, berpengaruh langsung terhadap kemampuan desa dalam menjalankan program-program prioritas.
“Penurunannya sangat jauh. Dampaknya paling terasa pada sektor kesehatan,” ujarnya saat ditemui pada Jumat (2/1/2026).
Quirinus menjelaskan bahwa meskipun penggunaan Dana Desa telah memiliki aturan yang jelas, kondisi anggaran yang terbatas membuat pemerintah desa harus melakukan pengetatan prioritas kegiatan. Fokus utama diarahkan pada program kesehatan, terutama yang berkaitan dengan upaya nasional penanganan dan pencegahan stunting.
Ia menilai, program stunting memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit, mulai dari pemenuhan gizi bagi bayi dan balita hingga pendampingan bagi ibu hamil. Dengan besaran Dana Desa yang tersedia saat ini, kebutuhan tersebut sulit terpenuhi secara optimal.
“Dengan anggaran Rp340 juta, bahkan untuk membayar honor kader saja sudah tidak mencukupi,” ungkapnya.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Desa Tepian Indah berencana memaksimalkan pemanfaatan Alokasi Dana Desa (ADD) yang bersumber dari APBD Kutai Timur. Quirinus berharap ADD pada tahun anggaran 2026 tidak kembali mengalami pemangkasan.
Mengenai penyebab berkurangnya Dana Desa, Quirinus menduga kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat menjadi faktor utama. Menurutnya, kebijakan tersebut memberikan dampak langsung ke desa-desa yang justru menjadi ujung tombak pembangunan nasional.
“Kalau desa terus ditekan anggarannya, pembangunan nasional juga akan terhambat. Desa seharusnya diperkuat, bukan dilemahkan,” tegasnya.
Di luar ketergantungan pada dana transfer, pemerintah desa juga menyiapkan strategi jangka menengah dengan mendorong penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Selain itu, rencana pembentukan Koperasi Desa Merah Putih juga tengah disiapkan sebagai upaya meningkatkan pendapatan asli desa.
Meski menghadapi keterbatasan anggaran, Quirinus memastikan seluruh pengelolaan Dana Desa tetap dilakukan secara terbuka dan akuntabel. Setiap program, kata dia, dibahas bersama masyarakat melalui forum musyawarah desa.
“Semua kegiatan kami bahas secara terbuka. Tidak hanya Dana Desa, seluruh APBDes juga kami sampaikan kepada masyarakat,” pungkasnya.
Ia berharap pemerintah pusat dapat mengevaluasi kembali kebijakan efisiensi anggaran dan lebih mengedepankan pengawasan yang ketat daripada pemotongan dana yang berdampak luas bagi desa.
KUTAI TIMUR – Perlindungan terhadap korban kecelakaan lalu lintas terus menjadi prioritas Jasa Raharja Kutai Timur. Tak hanya menjamin biaya pengobatan hingga puluhan juta rupiah, lembaga ini juga memastikan proses penyaluran santunan dilakukan dengan cepat dan tepat sasaran.
“Setelah pihak unit gakkum memberi informasi bahwa ada laka lantas, kami langsung bergerak. Misalnya korban luka-luka dirawat di RS Kudungga, kami langsung koordinasi dengan rumah sakit agar korban ditanggung Jasa Raharja dan jika korban meninggal dunia kami akan mensurvei kebenaran ahli waris untuk menyalurkan dana santunan,” jelas Penanggung Jawab Jasa Raharja Kutim, Hur Rahman Wardana, saat ditemui di Auditorium Polres Kutim, Rabu (30/7/2025).
Besaran santunan yang diberikan cukup signifikan, yakni hingga Rp20 juta untuk korban luka-luka dan Rp50 juta bagi korban meninggal dunia. Jika korban tidak memiliki ahli waris, biaya penguburan senilai Rp4 juta akan diberikan kepada pihak yang menyelenggarakan pemakaman.
Perlindungan tersebut berlaku maksimal enam bulan sejak terjadinya kecelakaan. Menurut Rahman, proses klaim dapat dilakukan segera setelah laporan kecelakaan diterima dari kepolisian.
“Misalnya biaya pengobatan Rp10 juta, lalu korban masih kontrol berkali-kali ke rumah sakit dan plafon Rp20 juta itu belum habis, maka masih bisa digunakan. Jika sudah mencapai batas, kami akan keluarkan surat penjaminan maksimal Rp20 juta ke rumah sakit, agar bisa langsung dialihkan ke BPJS,” paparnya.
Rahman juga menegaskan bahwa proses santunan tetap mengacu pada laporan polisi sebagai dasar hukum utama. Penyelesaian di luar jalur hukum, seperti mediasi, tidak dapat dijadikan dasar pencairan dana.
“Jika kasusnya diselesaikan secara mediasi atau kekeluargaan, maka kami tidak bisa memproses santunannya, karena kita harus berdasarkan laporan polisi,” terangnya.
Tak hanya memberi perlindungan finansial, Jasa Raharja Kutim juga aktif mengedukasi masyarakat. Melalui kerja sama dengan Satlantas Polres Kutim, pihaknya rutin turun ke sekolah-sekolah hingga komunitas melalui kegiatan sosialiasi keselamatan berkendara.
“Seperti yang dilakukan bersama Satlantas dalam giat 'Ngopi Bareng', kami sampaikan pentingnya keselamatan berkendara,” ujarnya.
Untuk mempercepat layanan, Jasa Raharja telah bekerja sama dengan sejumlah rumah sakit di Kutim, seperti RS Kudungga, RS PKT, RS Meloy, dan RS SOHC. Persyaratan klaim juga semakin mudah, cukup dengan KTP dan KK bagi korban luka, serta dokumen tambahan untuk korban meninggal.
“Kalau luka ringan bisa cukup dengan beberapa kali kontrol. Tapi kalau parah, sehari pun bisa langsung habis plafon itu. Tapi kami tetap melayani sesuai batas waktu dan nilai tanggungan yang ada,” pungkas Rahman.
Jasa Raharja menargetkan proses santunan bagi korban meninggal dunia dapat diselesaikan maksimal tiga hari setelah kejadian, sebagai bentuk kepedulian dan pelayanan prima kepada masyarakat.
Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur, menjadi salah satu wilayah yang aktif melaksanakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) sebagai upaya konkret dalam mencegah stunting sejak dini. Kegiatan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari ibu hamil, balita, kader posyandu, hingga lansia, dalam sebuah gerakan terpadu yang menekankan pentingnya pola hidup sehat dan pelayanan kesehatan yang berkelanjutan.
Kegiatan Germas yang berlangsung di Balai Desa Swarga Bara ini dirangkaikan dengan layanan Posyandu Terintegrasi, yang kini tidak hanya berfokus pada bayi dan balita, tetapi juga memberikan layanan kesehatan dasar bagi ibu hamil, hingga lansia. Dengan demikian, desa ini menjadi contoh pelaksanaan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat yang menyeluruh.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, Sumarno, dalam sambutannya menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial. “Stunting bukan hanya urusan anak kecil. Ini adalah tanggung jawab bersama, dimulai dari calon ibu yang sehat, lingkungan yang bersih, hingga pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin melalui posyandu,” tegasnya.
Sumarno juga menambahkan bahwa saat ini Pemerintah Kabupaten Kutai Timur terus mendorong desa-desa lain untuk mengadopsi model Posyandu Terintegrasi seperti yang dilakukan di Swarga Bara. Menurutnya, langkah ini terbukti efektif dalam menurunkan angka stunting, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi dan sanitasi.
Dalam kegiatan tersebut, warga mendapatkan layanan seperti penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, pemeriksaan tekanan darah, penyuluhan gizi, serta pemberian makanan tambahan untuk balita dan ibu hamil. Para lansia juga turut diperiksa kesehatannya sebagai bagian dari pelayanan preventif yang menyeluruh.
Salah satu kader posyandu, Ibu Rina, mengaku senang dengan perubahan sistem posyandu yang kini lebih komprehensif. “Dulu kami hanya fokus ke balita, sekarang semua usia bisa dapat manfaat. Ini sangat membantu masyarakat, apalagi untuk ibu-ibu yang sedang hamil atau punya anak kecil,” ungkapnya.
Kegiatan Germas ini juga diselingi dengan senam bersama, demo masak sehat, dan edukasi sanitasi yang interaktif. Antusiasme warga sangat tinggi, terlihat dari banyaknya peserta yang hadir dan aktif mengikuti setiap sesi kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga siang hari.
Dengan adanya sinergi antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah, Desa Swarga Bara menunjukkan bahwa pencegahan stunting bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Germas bukan hanya slogan, tetapi telah menjadi budaya hidup sehat yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari warga.(MR)
SANGATTA – Isu mengenai super flu yang ramai diperbincangkan di media sosial dan sejumlah pemberitaan nasional dipastikan belum ditemukan di Kabupaten Kutai Timur. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim menegaskan hingga kini belum menerima laporan resmi terkait adanya kasus penyakit tersebut.
Kepala Dinkes Kutim, Yuwana Sri Kurniawati, menyampaikan bahwa pihaknya terus mengikuti perkembangan informasi mengenai super flu. Meski demikian, sampai saat ini belum ada temuan maupun laporan dari fasilitas kesehatan di wilayah Kutim.
“Untuk sementara belum ada laporan. Kalau nantinya ada perkembangan atau laporan resmi terkait super flu, tentu akan segera kami informasikan kepada masyarakat,” ujarnya.
Walau belum terdeteksi di Kutim, Dinkes tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Kewaspadaan perlu ditingkatkan, terutama bagi warga yang baru melakukan perjalanan dari luar daerah maupun luar negeri.
Secara medis, kata Yuwana, super flu memiliki gejala yang mirip dengan influenza pada umumnya, terutama yang sering muncul saat musim hujan atau perubahan cuaca ekstrem. Namun, tingkat keluhannya bisa lebih berat.
Beberapa gejala yang umum dirasakan antara lain demam tinggi di atas 38,5 derajat Celsius disertai menggigil, batuk kering berkepanjangan, nyeri otot dan sendi, tubuh terasa sangat lemah, sakit tenggorokan, hingga sakit kepala. Pada kasus tertentu, penderita juga bisa mengalami sesak napas atau nyeri di dada.
“Penyakit ini sebenarnya serupa dengan jenis influenza yang pernah muncul sebelumnya, seperti flu Hong Kong sebelum era Covid-19. Karena itu, langkah pencegahannya pun hampir sama,” jelasnya.
Yuwana menegaskan, penggunaan masker masih menjadi langkah sederhana namun efektif, terutama bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi atau yang baru datang dari wilayah lain.
“Masker tetap penting, apalagi bagi mereka yang bepergian jauh atau dari luar negeri. Itu salah satu cara paling mudah mencegah penularan,” katanya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga daya tahan tubuh. Pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi, memperbanyak buah dan sayur, serta mengonsumsi vitamin dinilai sangat membantu meningkatkan imunitas tubuh.
“Imunitas harus dijaga agar tubuh tidak mudah terserang penyakit,” tambahnya.
Sebagai catatan, super flu diketahui menular melalui udara, sama seperti flu musiman. Penularan dapat terjadi melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin.
Data Kementerian Kesehatan RI mencatat, hingga Desember 2025 terdapat 62 kasus super flu di Indonesia. Kasus pertama terdeteksi pada Agustus 2025 dan dilaporkan telah menyebar di beberapa wilayah.
PALOPO — Pasangan Ghilank–Juwita resmi terpilih sebagai pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) periode mendatang usai pemilihan mahasiswa yang digelar pada Sabtu (20/12/2025).
Berdasarkan hasil penghitungan suara yang telah diverifikasi panitia pemilihan mahasiswa, Ghilank–Juwita meraih 668 suara, sementara pasangan Fikram–Juarni memperoleh 626 suara. Seluruh tahapan pemungutan dan penghitungan suara dinyatakan sah dan berjalan lancar.
Pemilihan BEM UNCP tahun ini dinilai mencerminkan dinamika demokrasi kampus yang sehat, dengan tingkat partisipasi mahasiswa yang cukup tinggi serta kompetisi yang berlangsung terbuka dan sportif.
Kemenangan Ghilank–Juwita tidak lepas dari dukungan kuat berbagai organisasi kemahasiswaan. Sebanyak 14 Unit Kegiatan Khusus (UKK) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) membentuk aliansi yang dikenal sebagai Koalisi K1TA, yang secara aktif menggalang dukungan lintas fakultas.
Koalisi tersebut menjadi kekuatan strategis dalam mengonsolidasikan suara mahasiswa dari beragam latar belakang, sekaligus memperkuat pesan persatuan selama masa kampanye.
“Gerakan kami dibangun atas dasar kebersamaan. Setiap elemen bergerak dengan visi yang sama dan saling menguatkan hingga hari pemilihan,” ujar Sekretaris Tim Pemenangan, Herman Yoseph Leu Krida.
Usai penetapan hasil, Juwita menyampaikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa UNCP atas partisipasi aktif dalam proses demokrasi kampus. Ia menekankan pentingnya menjadikan hasil pemilihan sebagai momentum persatuan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh mahasiswa dan lembaga kemahasiswaan yang telah berpartisipasi. Ini adalah proses demokrasi yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh mahasiswa, tanpa memandang perbedaan pilihan, untuk kembali bersatu dan berkolaborasi membangun gerakan kemahasiswaan yang inklusif.
“Pemilihan telah selesai. Saatnya kita bergandengan tangan untuk mewujudkan BEM yang mampu menjadi rumah bersama bagi seluruh mahasiswa UNCP,” tambahnya.
Ke depan, Ghilank–Juwita dijadwalkan segera melakukan konsolidasi internal dan menyusun agenda transisi kepemimpinan serta program kerja BEM UNCP yang responsif terhadap aspirasi mahasiswa.
KUTAI TIMUR – Polres Kutai Timur menyalurkan 200 paket bantuan sosial (bansos) kepada warga Kampung Sidrap, Desa Martadinata, Kecamatan Teluk Pandan, Kamis (28/8). Kegiatan itu digelar dalam rangka HUT ke-77 Polwan dan Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-73.
Kapolres Kutim AKBP Fauzan Arianto memimpin langsung penyerahan bansos yang ditujukan bagi lansia dan anak yatim. Turut hadir Ketua Bhayangkari Cabang Kutim Ny. Yuniar Fauzan bersama jajaran serta pejabat utama (PJU) Polres Kutim.
Menurut Kapolres, bantuan yang dibagikan terdiri dari bahan kebutuhan pokok, termasuk 1.000 kilogram beras SPHP. “Kami ucapkan terima kasih banyak atas partisipasi bapak/ibu dalam kelancaran kegiatan Bansos hari ini,” ujar AKBP Fauzan.
Ia menyebut, penyaluran bansos ini merupakan upaya menjaga stabilitas ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat sinergi dalam pemeliharaan keamanan dan ketertiban. “Kami harapkan bantuan ini bisa memberikan manfaat untuk masyarakat Kampung Sidrap serta kedepannya Polres Kutai Timur bisa bersinergi dalam menjaga Harkamtibmas khususnya di Kampung Sidrap Desa Martadinata ini,” jelasnya.
Kapolres juga mengajak warga berperan aktif dalam menjaga lingkungan agar tetap aman. “Kami menitipkan situasi Kamtibmas Kampung Sidrap ini kepada masyarakat, mudah-mudahan Kampung Sidrap selalu aman dan kondusif,” pungkasnya.
SANGATTA – Sari Agustina, pembalap perempuan yang akrab disapa Sargus, kembali mengukir prestasi gemilang. Rider 20 tahun asal Banten itu berhasil menyabet juara pertama kelas 130 Women Open pada Kejuaraan Balap Motor Kasmidi Bulang Roadrace Seri 5 Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Kaltim di Sirkuit Non Permanen GOR Kudungga, Sangatta Utara, Kutai Timur, 9–10 Agustus 2025.
Kemenangan ini menambah daftar panjang prestasi Sargus di dunia balap. Sebelumnya, ia pernah meraih juara di ajang nasional seperti Honda Dream Cup, One Prix, hingga Moto Prix. “Rasanya senang bisa banggain tim dan keluarga. Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung, terutama bos tim,” ujarnya usai balapan.
Sargus mulai terjun di dunia otomotif sejakusianya 11 tahun. Darah balap mengalir dari sang ayah yang juga pembalap. Kini, ia tinggal di Samarinda bersama suaminya yang ternyata juga seorang pembalap. “Sejak kecil memang sudah dekat sama dunia balap. Jadi terasa natural saja,” ungkapnya.
Persiapan menuju seri kali ini terbilang intens. Hampir setiap hari ia berlatih, apalagi dalam beberapa pekan terakhir Sargus mengikuti event demi event. “Fokus saya di kelas wanita untuk mengamankan poin di setiap seri,” jelasnya.
Meski sudah langganan podium, Sargus masih punya mimpi besar: juara nasional, bahkan internasional. “Targetnya juara di kelas Women One Prix. Kalau bisa sampai internasional,” tegasnya.
Perempuan kelahiran 2004 ini juga membagikan pesan untuk kaum hawa yang ingin terjun di dunia balap. “Coba aja dulu, jangan remehin diri sendiri. Walau kita cewek, bukan berarti nggak bisa. Terus berusaha,” katanya.
Di balik pencapaiannya, Sargus mengaku kerap menghadapi komentar meremehkan. Namun, ia memilih tak mempedulikannya. “Banyak yang meremehkan, tapi saya nggak pernah dengerin omongan orang,” tutupnya dengan senyum.